Jakarta, CNN Indonesia —
Lebih dari 100.000 warga Israel berunjuk rasa di Sebanyaknya kota untuk memprotes serangan militer ke Jalur Gaza, Palestina.
Aksi Massa itu digelar pada Sabtu (22/3) malam di Sebanyaknya wilayah, termasuk Tel Aviv dan Yerusalem, seiring dengan memuncaknya amarah warga atas keputusan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
The Times of Israel melaporkan di Habima Square, Tel Aviv, puluhan ribu orang memadati alun-alun Sampai saat ini tumpah ruah ke jalan sekitar. Jumlah para pedemo ini meningkat pesat karena sebelumnya hanya sekitar setengah area alun-alun yang terisi.
Lonjakan massa ini sendiri dipicu oleh upaya Netanyahu memecat kepala badan intelijen Shin Bet Ronen Bar dan Jaksa Agung Gali Baharav-Miara. Warga menilai langkah Netanyahu ini dilakukan hanya demi mempertahankan kekuasaannya semata.
Pemimpin partai-partai oposisi seperti Yair Lapid dan Yair Golan termasuk di antara demonstran yang berkumpul di Habima. Bersama masyarakat, mereka menentang “kediktatoran” Netanyahu yang disambut riuh teriakan massa.
“[Pemerintah] melakukan segala Tips untuk memulai Konflik Bersenjata saudara di sini. Netanyahu secara terbuka mendorongnya,” kata Lapid.
Sementara itu, di Hostages Square, publik berkumpul atas panggilan Forum Sandera dan Keluarga Hilang. Massa memprotes tindakan pemerintahan menyerang kembali Gaza Sampai saat ini merusak kesepakatan gencatan senjata.
Warga utamanya khawatir serangan Israel Akan segera membahayakan nasib mereka yang masih disandera.
“Kembalinya pertempuran dapat menewaskan para sandera yang masih hidup dan menyebabkan yang Sudah tewas menghilang,” demikian pernyataan forum tersebut.
“Pertarungan mestinya terjadi hanya di ruang Perundingan, Supaya bisa seluruh sandera dapat segera kembali,” lanjut pernyataan forum.
(blq/dna)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA