Sarkopenia, Penyusutan Otot yang Mengintai Sejak Usia 30-an

Daftar Isi



Jakarta, CNN Indonesia

Sarkopenia kerap dianggap sebagai masalah lansia. Padahal, proses penyusutan massa otot ini sejatinya Pernah terjadi dimulai jauh lebih dini, bahkan sejak seseorang memasuki usia 30-an.

Dokter spesialis penyakit dalam, Vardian Mahardika, menjelaskan bahwa penurunan massa otot merupakan proses alami yang tak bisa dihindari. Justru, kecepatannya sangat dipengaruhi Kebiasaan.

“Setelah usia 30 tahun, massa otot Nanti akan menyusut secara alami. Setiap dekade, penurunannya bisa mencapai 3-8 persen. Bahkan saat kita diam saja, otot tetap menyusut,” kata Vardian saat menjadi pembicara dalam Talkshow kesehatan di CNN Indonesia Wellnest Perayaan Seni 2026 di Jakarta, Jumat (30/1).



ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi inilah yang dikenal sebagai sarkopenia, yaitu penurunan progresif massa, kekuatan, dan fungsi otot. Meski umum terjadi pada lansia akibat penuaan, sarkopenia Bahkan bisa muncul lebih dini akibat malnutrisi, kurang Olahraga, atau penyakit tertentu.

Otot, organ hidup yang penting

Menurut Vardian, otot bukan sekadar alat gerak. Otot Merupakan organ hidup dengan fungsi yang sangat vital bagi tubuh.

“Otot berperan besar dalam mengatur metabolisme. Ia Merupakan tempat penyimpanan gula Unggul. Kalau ‘gudang’ otot kita besar, gula Nanti akan masuk ke otot, bukan menumpuk di lemak,” ujarnya.

Tak hanya itu, otot Bahkan berperan dalam menjaga keseimbangan hormon seperti testosteron dan estrogen, serta Membantu meredakan peradangan di dalam tubuh. Otot yang kuat Bahkan menopang sendi dan tulang dengan lebih baik sehingga risiko Cidera, termasuk saat berolahraga intensitas tinggi, bisa jauh berkurang.

Karena itu, Vardian menyebut membangun otot sebagai bentuk Penanaman Modal jangka panjang.

“Nabung otot itu penting, terutama mulai usia 30-an. Angkat beban, karena otot sepenting itu,” katanya.

Gejala yang Sangat dianjurkan diwaspadai

Sarkopenia kerap berkembang perlahan dan sering luput disadari. Beberapa gejala utama yang bisa muncul antara lain:

• Kelemahan fisik, seperti sulit mengangkat benda, berdiri dari kursi, atau naik tangga.

• Penurunan stamina, tubuh mudah lelah dan kurang bertenaga.

• Penyusutan massa otot, otot terlihat mengecil.

• Gangguan keseimbangan, mudah terjatuh dan Cidera.

Bila tidak ditangani, sarkopenia dapat Mengoptimalkan risiko jatuh, Penyandang Disabilitas, Sampai saat ini ketergantungan fisik pada orang lain.

Dalang dan faktor risiko

Selain penuaan alami yang umumnya makin terasa setelah usia 40-50 tahun, beberapa faktor lain dapat mempercepat sarkopenia, antara lain:

• Kebiasaan sedentari atau jarang berolahraga.

• Malnutrisi, terutama kekurangan protein dan kalori.

• Penyakit kronis, seperti penyakit ginjal, jantung, atau HIV/AIDS.

Diagnosis dan pencegahan

Diagnosis sarkopenia dapat dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari kuesioner, pengukuran lingkar betis (kurang dari 34 cm pada pria dan 33 cm pada wanita), tes kekuatan genggaman tangan, Sampai saat ini pemeriksaan lanjutan seperti DEXA atau BIA.

Untuk pencegahan dan penanganan, kuncinya ada pada latihan kekuatan dan asupan protein yang cukup. Latihan ketahanan atau resistance training terbukti efektif merangsang pembentukan dan mempertahankan massa otot.

Menangani sarkopenia sejak dini sangat penting untuk mencegah Penyandang Disabilitas dan menjaga kualitas hidup tetap optimal Sampai saat ini usia lanjut. Mulai bergerak dan membangun otot hari ini bisa menjadi tabungan kesehatan Di kemudian hari.

(tis/tis)


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA