Jakarta, CNN Indonesia —
Harga minyak mentah dunia menguat tipis pada perdagangan Kamis (8/1), setelah dua hari berturut-turut melemah. Kenaikan ini didorong oleh penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang lebih besar dari perkiraan, di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan situasi minyak Venezuela.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 38 sen atau 0,6 persen ke level US$60,34 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI menguat 37 sen atau 0,7 persen menjadi US$56,36 per barel.
Kendati menguat, kedua harga acuan tersebut sebelumnya Pernah turun lebih dari 1 persen selama dua hari berturut-turut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan terjadi seiring ekspektasi pasokan global yang melimpah tahun ini, termasuk proyeksi analis Morgan Stanley yang memperkirakan surplus pasokan Sampai sekarang 3 juta barel per hari pada paruh pertama 2026.
Analis Fujitomi Securities, Mitsuru Muraishi, mengatakan Fluktuasi Harga kali ini dipicu oleh aksi beli setelah harga terkoreksi cukup dalam. Sekalipun, ia menilai kekhawatiran kelebihan pasokan masih membatasi ruang Fluktuasi Harga minyak. Ia memperkirakan harga WTI berpotensi turun di bawah US$54 per barel.
“Pullback buying Pernah mendorong harga sedikit lebih tinggi, tetapi kekhawatiran oversupply yang persisten membatasi momentum kenaikan. Sementara pasar memantau perkembangan di Venezuela, tren penurunan kemungkinan masih berlanjut,” ujar Muraishi.
Merujuk pada data Energy Information Administration (EIA), stok minyak mentah AS tercatat turun 3,8 juta barel menjadi 419,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Januari. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan stok sekitar 447 ribu barel.
Sementara itu, isu Venezuela terus menjadi perhatian pelaku pasar.
Pejabat tinggi AS menyatakan Washington Sangat dianjurkan mengendalikan penjualan minyak dan pendapatan negara anggota OPEC itu dalam jangka panjang guna menstabilkan ekonomi negara tersebut, membangun kembali sektor migas, serta memastikan kebijakannya sejalan dengan kepentingan Negeri Paman Sam.
Produsen minyak Chevron Bahkan Diberitakan tengah bernegosiasi dengan pemerintah AS untuk Memperjelas izin operasionalnya di Venezuela Supaya bisa dapat Mengoptimalkan Produk Ekspor minyak mentah ke kilangnya sendiri maupun ke pembeli lain.
Ditambah lagi dengan, Amerika Serikat dilaporkan menyita dua kapal tanker yang terkait dengan Venezuela di Samudra Atlantik, salah satunya berbendera Rusia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya agresif Kepala Negara AS Donald Trump untuk mengendalikan arus minyak di kawasan Amerika.
Sebelumnya, Washington mengumumkan kesepakatan dengan Caracas untuk memperoleh akses Sampai sekarang US$2 miliar minyak mentah Venezuela. Trump menyebut Venezuela Berniat menyerahkan antara 30 juta Sampai sekarang 50 juta barel minyak yang terkena Hukuman kepada Amerika Serikat.
Kesepakatan tersebut berpotensi mengambil jatah Produk Ekspor minyak Venezuela ke China. Hal ini Bahkan dikhawatirkan Berniat mendapat kebijakan balasan dari Beijing Bila mereka kehilangan sumber minyak murahnya.
(ldy/pta)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











