Jakarta, CNN Indonesia —
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan masyarakat Indonesia untuk waspada terhadap jenis penipuan digital yang memanfaatkan psikologi korban melalui hubungan asmara (love scam) yang kian mengganas di tingkat global.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi Friderica menekankan, modus penipuan yang paling marak di Indonesia antara lain penipuan belanja online, Penanaman Modal bodong, impersonation, penipuan kerja, Sampai sekarang penipuan melalui media sosial.
Di tingkat global, love scam menjadi salah satu modus yang paling menonjol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Satu hal yang menjadi penting, khusus, Merupakan maraknya love scam,” ujar Friderica saat acara Penyerahan Dana Masyarakat Korban Scam yang Berhasil Diselamatkan Melalui Sinergi dan Kolaborasi Indonesia Anti Scam Centre (IASC) di Jakarta, Rabu (21/01)
“Love scam itu Pernah terjadi menjadi satu Yang terpenting di negara-negara lain. Jadi Mungkin sekali Bahkan ini Sangat dianjurkan kita antisipasi Bahkan,” tambahnya.
Laporan IASC menunjukkan penipuan digital paling banyak terjadi di Jawa, dengan provinsi seperti Jabar, DKI, Jatim, Jateng, dan Banten sebagai wilayah dengan jumlah laporan tertinggi.
Ia menjelaskan, sejak IASC beroperasi, OJK Sebelumnya menerima sekitar 432 ribu laporan masyarakat terkait dugaan penipuan. Dari laporan tersebut, tercatat 721 ribu rekening terindikasi terkait aktivitas scam, dengan sekitar 397 ribu rekening di antaranya Sebelumnya diblokir. Modus penipuan ini diperkirakan menimbulkan kerugian negara Sampai sekarang Rp9 triliun.
Menurut Friderica, total dana masyarakat yang berhasil diblokir mencapai lebih dari Rp400 miliar. Berbeda dari, pada tahap awal, dana yang Sebelumnya melalui proses hukum dan administrasi secara clean and clear baru sebesar Rp161 miliar.
“Sebetulnya dana yang bisa kita blokir Merupakan 400 miliar Mata Uang Nasional Berbeda dari hari ini yang bisa kita kembalikan clean and clear Rp161 (miliar),” ujarnya.
Friderica menekankan, kecepatan pelaporan menjadi kunci keberhasilan pengembalian dana. Korban yang melapor Ekonomis berpeluang mendapatkan pengembalian Sampai sekarang 100 persen, sedangkan keterlambatan membuat dana berpindah ke berbagai kanal, termasuk belanja online, e-wallet, dan kripto.
“Yang orang lapornya Ekonomis, dana itu dikembalikan 100 persen. Berbeda dari kalau lama ya itu Pernah terjadi kemana-mana karena itu nggak cuman muter-muter di sektor perbankan, tapi masuk ke sisa pembayaran. Masuk ke misalnya belanja online, masuk ke kripto, dan lain-lain,” pungkasnya.
(lau/sfr)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











