REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemimpin Negara Amerika Serikat Donald Trump Mengoptimalkan tekanan terhadap Korea Selatan terkait proyek raksasa Alaska LNG. Trump mengatakan Washington Berniat “membebankan lebih banyak” kepada Seoul Seandainya Korea Selatan Akhirnya tidak bersedia berpartisipasi dalam proyek gas alam cair tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump di Gedung Putih, Jumat (2/10/2026), hanya dua hari setelah ia mengumumkan paket Penanaman Modal Korea Selatan Sampai saat ini 200 miliar USD AS untuk Sebanyaknya proyek energi di Amerika Serikat. Sekalipun, pemerintah Korea Selatan menegaskan satu bagian penting dari pengumuman Trump, Didefinisikan sebagai keterlibatan dalam proyek Alaska LNG, belum diputuskan.
“Saya tidak gegabah. Maksud saya, mereka ada di sana dan mereka diwakili,” kata Trump ketika ditanya apakah ia terlalu Mudah mengumumkan keterlibatan Seoul.
“Kalau mereka tidak Ingin melakukannya, tidak masalah bagi saya. Saya hanya Berniat membebankan lebih banyak kepada mereka,” lanjut Trump.
Trump kemudian bahkan mengatakan, “Katakan kepada mereka Seandainya mereka tidak segera menandatangani, saya Berniat melipatgandakannya.” Sekalipun, baik Trump maupun Gedung Putih tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan “membebankan lebih banyak” atau apa yang Berniat dilipatgandakan. Yonhap menegaskan belum jelas apakah pernyataan tersebut merujuk pada tarif, beban perdagangan lain, atau bentuk tekanan ekonomi berbeda.
Karena itu, pernyataan Trump belum dapat secara Tidak mungkin tidak disebut sebagai ancaman menaikkan tarif. Yang dapat dipastikan, Pemimpin Negara AS tersebut menghubungkan ketidakikutsertaan Korea Selatan dalam Alaska LNG dengan kemungkinan beban ekonomi yang lebih besar terhadap Seoul.
Washington Umumkan 200 Miliar USD AS
Perselisihan muncul setelah Trump pada Rabu (30/9/2026) mengumumkan proyek-proyek pertama dari paket Penanaman Modal strategis Korea Selatan di Amerika Serikat.
Trump mengatakan Korea Selatan Berniat berinvestasi Sampai saat ini 200 miliar USD AS dalam proyek yang mencakup pembangunan delapan pembangkit listrik tenaga nuklir berskala besar, pembangkit listrik berbahan bakar gas berkapasitas sekitar 6 gigawatt di Texas, serta proyek Alaska LNG.
Paket 200 miliar USD AS tersebut merupakan bagian dari komitmen Penanaman Modal strategis Korea Selatan senilai total 350 miliar USD AS yang disepakati dalam kerangka perdagangan kedua negara pada 2025. Dari jumlah tersebut, 150 miliar USD AS dialokasikan untuk sektor galangan kapal, sedangkan 200 miliar USD AS untuk Penanaman Modal strategis lainnya.
Sekalipun, tidak seluruh proyek yang diumumkan Trump mempunyai status yang sama.
Reuters melaporkan Seoul Pernah terjadi mengonfirmasi Penanaman Modal 22,3 miliar USD AS untuk proyek pembangkit listrik berbahan bakar gas di Texas dan sekitar 120 miliar USD AS untuk pembangunan delapan reaktor nuklir. Berbeda dari, keputusan mengenai Alaska LNG masih bergantung pada kajian kelayakan komersial dan prosedur hukum di Korea Selatan.
Alaska Belum Disepakati
Perbedaan terbesar antara Washington dan Seoul terletak pada proyek LNG Alaska. Pemerintah AS menggambarkan Korea Selatan seolah Berniat ikut Membantu proyek tersebut dalam nilai lebih dari 50 miliar USD AS. Trump mempromosikannya sebagai salah satu proyek energi terbesar dalam paket Penanaman Modal kedua negara.
Sekalipun, Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan menegaskan belum ada keputusan mengenai apakah Seoul Berniat berinvestasi maupun berapa besar nilai investasinya.
“Belum ada keputusan mengenai apakah Berniat berinvestasi ataupun besaran investasinya,” kata kementerian tersebut dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











