Data Kesehatan Nasional 2025 Masih Dibayangi Obesitas dan Hipertensi


Jakarta, CNN Indonesia

Data kesehatan nasional masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Evaluasi Kementerian Kesehatan sepanjang 2025 menunjukkan tantangan kesehatan muncul di hampir seluruh kelompok usia, dari bayi Sampai sekarang lansia.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, memaparkan Sebanyaknya temuan yang menjadi perhatian pemerintah. Sebanyak enam dari 100 bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Apalagi, pada kelompok balita, 31 persen mengalami gigi berlubang.



ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalah kesehatan Bahkan mulai terlihat sejak usia remaja. Endang menyebutkan, satu dari lima remaja memiliki tekanan darah di atas normal. Sementara itu, pada kelompok dewasa, satu dari tiga orang mengalami obesitas sentral.

Kondisi ini berlanjut Sampai sekarang usia lanjut, dengan 51 persen lansia tercatat mengidap hipertensi.

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah menegaskan komitmen untuk Mengoptimalkan layanan kesehatan dasar. Endang menyampaikan bahwa mulai 2026, pasien hipertensi dan diabetes tidak lagi hanya menjalani pemeriksaan.

“Mulai 2026, pasien hipertensi dan diabetes Berencana langsung mendapatkan Medis di Puskesmas pada hari yang sama,” ujarnya.

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pun memasuki tahun kedua pelaksanaannya dengan pendekatan baru. Bila sebelumnya fokus pada skrining, pada 2026 Kementerian Kesehatan Berencana menitikberatkan pada tata laksana dan penanganan hasil pemeriksaan, terutama bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa CKG tidak berhenti pada proses pemeriksaan semata. Program ini dirancang berkelanjutan, mencakup pencegahan Sampai sekarang Terapi secara terintegrasi.

“Target kita di 2026 bukan hanya melakukan cek kesehatan, tetapi memastikan masyarakat Sungguh-sungguh sehat. Bukan hanya pemeriksaannya yang gratis, pencegahan dan penanganannya Bahkan gratis,” kata Budi mengutip Antara.

Pemerintah menjamin Terapi gratis selama 15 hari pertama bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan melalui CKG. Berikutnya, penanganan Berencana dilanjutkan melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi peserta BPJS Kesehatan aktif.

Sementara warga yang belum terdaftar Berencana diarahkan untuk segera mengaktifkan kepesertaan.

Sejalan dengan penguatan layanan, Badan Komunikasi Pemerintahan menekankan pentingnya orkestrasi komunikasi publik secara masif Supaya bisa masyarakat semakin sadar dan aktif memanfaatkan layanan CKG. Program ini dinilai sebagai salah satu program kesehatan dengan penerima manfaat terbesar karena menjangkau seluruh populasi.

Di tingkat daerah, berbagai inovasi layanan mulai bermunculan. Kabupaten Pangkep, Sulsel, misalnya, menghadirkan layanan jemput bola melalui Perahu Sehat Pulau Senang untuk menjangkau warga kepulauan.

Sementara itu, Puskesmas Pacitan mengintegrasikan layanan kesehatan fisik dan mental lewat program Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP).

Dengan fokus baru pada penanganan dan pengendalian penyakit, pemerintah berharap CKG tak sekadar menjadi agenda pemeriksaan tahunan, melainkan Sungguh-sungguh berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

(tis/tis)


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version