Jakarta, CNN Indonesia —
Lonjakan kasus flu di Amerika Serikat yang diduga dipicu kemunculan varian baru subclade K menjadi perhatian serius Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Dalam sepekan, lebih dari 70 ribu kasus flu tercatat, memunculkan kekhawatiran Akan segera potensi dampaknya Bila varian tersebut menyebar lebih luas, termasuk ke Indonesia.
Ketua Umum IDAI, Dokter Piprim B Yanuarso, mengingatkan bahwa varian subclade K berisiko menimbulkan gejala lebih berat, terutama bila menyerang anak-anak dengan penyakit penyerta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Subclade K ini memang agak sulit dikenali dan bisa menembus kekebalan yang Pernah terjadi ada sebelumnya,” ujar Dokter Piprim, Senin (29/12), melansir detikhealth.
Ia menjelaskan, varian ini kerap dijuluki sebagai ‘super flu’, bukan karena Setiap Saat mematikan, tetapi karena potensi keparahan gejalanya pada kelompok rentan. Anak-anak dengan penyakit bawaan menjadi salah satu kelompok yang paling berisiko.
“Pada anak-anak, kejadian influenza tipe A Manakala mengenai anak dengan penyakit bawaan atau komorbid, dampaknya bisa jauh lebih serius dibandingkan anak tanpa komorbid,” lanjutnya.
Menurut Dokter Piprim, risiko perburukan meningkat pada anak yang memiliki penyakit jantung bawaan, gangguan paru kronis, gangguan metabolik seperti diabetes dan obesitas, kelainan saraf, Sampai sekarang gangguan sistem imun. Pada kelompok ini, infeksi influenza dapat memicu komplikasi yang lebih berat dan memerlukan penanganan intensif.
Selain faktor virus, kondisi lingkungan Bahkan dinilai dapat mempercepat penyebaran penyakit. IDAI menyoroti bencana alam yang terjadi di Sebanyaknya wilayah, seperti Bencana Banjir di Sumatera dan Kalsel, sebagai situasi yang Wajib diwaspadai.
“Kita Di waktu ini sedang menghadapi Bencana Banjir dan banyak bencana di beberapa wilayah. Kita turut prihatin terhadap saudara-saudara kita dan jangan sampai kondisi ini diperberat dengan tambahan kasus influenza,” kata Dokter Piprim.
Menghadapi potensi ancaman super flu subclade K, IDAI menekankan pentingnya kembali menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Pengalaman panjang selama Virus Corona dinilai menjadi pelajaran berharga dalam mencegah penularan penyakit menular.
“Setiap penyakit menular, hal pertama yang Wajib kita kerjakan Merupakan PHBS. Kita Pernah terjadi punya pengalaman Virus Corona, jadi kebiasaan seperti memakai masker, menjaga kebersihan, dan menghindari kerumunan saat musim penyakit itu sangat penting,” ujarnya.
Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan dengan benar, menerapkan etika batuk, menjaga jarak saat anak Di waktu ini sedang tidak fit, serta menggunakan masker pada kondisi tertentu dinilai masih sangat relevan Sampai sekarang Di waktu ini.
IDAI Bahkan kembali mengingatkan pentingnya Imunisasi influenza, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Vaksin influenza direkomendasikan untuk anak mulai usia enam bulan ke atas guna menekan risiko gejala berat.
“Bagaimana kita mengingatkan kembali Imunisasi influenza pada anak-anak mulai usia enam bulan. Ini penting untuk mencegah gejala berat,” tambahnya.
Tak hanya anak, Imunisasi influenza pada ibu hamil Bahkan dinilai penting. Pemberian vaksin selama kehamilan dapat Menyajikan perlindungan pasif bagi bayi, khususnya bayi muda dan bayi prematur yang belum bisa menerima imunisasi sendiri.
“Pemberian vaksin pada ibu hamil bisa melindungi bayi-bayi muda, apalagi bayi prematur, Supaya bisa tetap terlindungi,” tambahnya.
Ia Bahkan menekankan pentingnya menjaga kondisi kesehatan anak dengan komorbid. Pengelolaan penyakit penyerta dan pemenuhan nutrisi yang baik dinilai dapat Membantu menurunkan risiko keparahan bila anak terinfeksi influenza.
“Pada anak dengan komorbid, menjaga nutrisi yang adekuat dan mengontrol penyakit penyertanya sangat Membantu dalam mengurangi beratnya gejala Bila terinfeksi influenza,” tutup Dokter Piprim.
(nga/tis)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
