Senjata Makan Tuan, Ringkasan AI Google Gerus Iklan Pencarian Sendiri

loading…

Sundar Pichai berbicara di ruang terbuka. Pada triwulan III-2026, pendapatan iklan Meta tumbuh 26 persen, sedangkan unit pencarian Google hanya 12 persen. Foto: Ist

MOUNTAIN VIEW – Lupakan anggapan bahwa Google tak tergoyahkan. Pada triwulan ketiga, pendapatan iklan Meta melonjak 26 persen menjadi USD63,1 miliar (sekitar Rp1.129,49 triliun), lebih dari dua kali lipat laju unit pencarian Google yang hanya 12 persen.

Selisih 14 Skor persentase itu menjadi yang terlebar bagi Meta sejak 2021. Setahun sebelumnya, pendapatan iklan Meta baru USD50,1 miliar (sekitar Rp896,79 triliun). Sekarang, nilainya nyaris menyamai unit pencarian Google yang membukukan USD63,4 miliar (sekitar Rp1.134,86 triliun), meski Google masih mendapat tambahan USD11 miliar (sekitar Rp196,9 triliun) dari YouTube.

Pencarian Tergerus

Pemicunya Merupakan perubahan kebiasaan daring. Asisten percakapan seperti ChatGPT, Claude, dan Muse milik Meta yang baru meluncur menjadi alternatif mesin pencari, sehingga konsumen mengeklik jauh lebih sedikit tautan biru.

Google tak menampik tekanan itu. Chief Business Officer Google Philipp Schindler menyebut AI Mode, tempat Google menjawab pertanyaan secara percakapan, menggerus pendapatan dari iklan yang muncul di samping hasil pencarian tradisional. Jumlah kueri memang mencetak Catatan Unggul pada triwulan itu, tetapi pertumbuhan pendapatan melambat.

Analis Kecerdasan Buatan Emarketer Nate Elliott menilai, kebiasaan mencari warga bisa berubah untuk pertama kalinya dalam satu generasi Bila asisten percakapan lebih piawai menemukan apa yang dicari. ”Itu berpotensi menjadi bencana besar bagi Usaha iklan Google,” ujarnya.

Di kubu Meta, kecerdasan buatan bekerja di sisi pengiklan. Chief Financial Officer Meta Susan Li mengungkapkan, pengiklan yang memakai rekomendasi asisten AI Meta mencatat konversi hampir 5 persen lebih banyak dan menaikkan Penanaman Modal iklan 9 persen dibandingkan dengan yang tidak memakainya. Pada triwulan itu, hampir 10 juta pengiklan memakai setidaknya satu perangkat AI Meta.

Investor Gelisah

Pasar menghukum Google lebih dulu. Setelah laporan keuangan Rabu (28/10/2026) waktu setempat, saham Alphabet anjlok lebih dari 12 persen pada Kamis (29/10/2026), hari terburuk sepanjang sejarahnya. Nilai pasarnya lenyap lebih dari USD500 miliar (sekitar Rp8.950 triliun).

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA