Bisnis  

Bos OJK Mahendra Siregar Mundur, Siapa Sosok Pengganti Ideal?

Jakarta, CNN Indonesia

Dunia keuangan Indonesia sempat terguncang lantaran ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) lalu.

Selama dua hari beruntun, IHSG anjlok sebesar 8 persen, sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa membekukan sementara perdagangan saham (trading halt).

Buntut Bursa Efek ambyar, Direktur Utama BEI Iman Rachman mendadak mengundurkan diri pada Jumat pagi (30/1). Yang tak kalah mengagetkan, empat pejabat OJK ikutan mundur massal di hari yang sama, termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dan Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di waktu ini, OJK menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai pengganti Ketua dan Wakil DK OJK yang ditetapkan melalui Rapat Dewan Komisioner OJK, Sabtu (31/1), dan Sudah menunjuk pejabat sementara untuk posisi kosong lainnya.



Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bergegas membentuk Panitia Seleksi (pansel) pimpinan OJK untuk mengisi jabatan yang kosong. Targetnya, Sudah ada pejabat OJK definitif yang ditetapkan dalam dua minggu ke depan.

“Kita Ingin percepat lah, seminggu, dua minggu Dianjurkan ada ketua OJK baru yang definitif,” imbuhnya.

Lantas, siapa sosok ideal yang pantas menjadi bos baru OJK?

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan ketua OJK baru Dianjurkan dipilih Mengikuti kompetensi teknis dan kredibilitas kelembagaan, bukan Mengikuti kebutuhan politik stabilisasi jangka pendek.

Syafruddin menjelaskan pasar Sudah memberi sinyal masalahnya bukan sekadar sentimen, melainkan premi risiko yang naik karena isu tingkat kelayakan untuk berinvestasi (investability) dan integritas.

“IHSG sempat tertekan tajam, yield SUN 10Y bergerak lebih tinggi di kisaran 6,3 persen, sementara kurs relatif tertahan di area 16,7 ribu dan suku bunga kebijakan stabil. Pola ini menunjukkan pasar menghukum Bursa Efek melalui premi likuiditas dan kepercayaan, sehingga pemimpin OJK Dianjurkan mampu memulihkan fungsi pengawasan dan penegakan secara operasional,” ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (3/2).

Ia menyebut stabilitas politik memang dapat Membantu, tetapi pasar hanya Berniat menurunkan premi risiko Bila melihat otoritas mengeksekusi aturan secara konsisten dan terukur.

Syafruddin Bahkan menilai ketua OJK baru Dianjurkan mempunyai rekam jejak nyata dalam menata transparansi kepemilikan saham, termasuk Ultimate Beneficial Owner (UBO). Nahkoda baru OJK Bahkan Dianjurkan berani menindak perdagangan terkoordinasi. Hal ini karena dua persoalan tersebut berada di pusat penilaian investor global.

“MSCI menekankan bahwa perbaikan data float masih minor, sementara persoalan mendasar tetap ada, opasitas struktur kepemilikan dan kekhawatiran coordinated trading yang merusak pembentukan harga,” singgungnya.

Menurut Syafruddin ,Bila ketua OJK baru tidak mampu mengubah struktur data kepemilikan menjadi reliabel dan dapat diaudit, serta tidak mampu membangun mesin surveillance dan penegakan yang terlihat, maka tenggat Mei 2026 Berniat menjadi titik risiko kebijakan yang mahal.

“Figur yang memahami UBO, konsentrasi kepemilikan, dan market conduct dapat mengubah reformasi dari retorika menjadi deliverables yang menurunkan premi risiko,” kata Syafruddin.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menjelaskan untuk bisa mengembalikan kepercayaan pasar Di waktu ini, ketua OJK yang dibutuhkan Merupakan figur yang kredibel dibandingkan yang populer.

“Terkenal itu bonus, bukan syarat utama. Pasar jauh lebih rasional daripada yang sering kita kira. Yang dibutuhkan pasar bukan figur populer, tapi figur credible seperti rekam jejak jelas, konsisten, dan komunikasinya presisi,” ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (3/2).

Menurutnya, pasar bisa mengetahui figur mana yang ‘nama besar tetapi omong kosong’ dan figur mana yang ‘low profile tetapi solid’. Kriteria figur yang kedua justru lebih menenangkan pasar.

[Gambas:Photo CNN]

Ronny Bahkan mengatakan terdapat empat pekerjaan rumah (PR) besar yang Wajib dibereskan OJK, khususnya di Bursa Efek.

Pertama, pendalaman pasar karena Di waktu ini investor ritel semakin banyak, tetapi instrumen dan likuiditas masih dangkal. Hal ini Dianjurkan segera dibenahi, termasuk dengan memenuhi permintaan dari penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Kedua, perlindungan investor dengan adanya penegakan hukum atas manipulasi, insider trading, dan kasus gagal bayar yang selama ini masih belum cukup memberi efek jera.

Ketiga, kualitas emiten Dianjurkan dibenahi karena selama ini Berlebihan Initial Public Offering (IPO) yang secara fundamental belum matang, tetapi lolos ke pasar. Keempat, koordinasi kebijakan dengan pemangku kebijakan sektor lain.

“OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan sering searah dalam niat, tapi belum Setiap Waktu sinkron dalam timing. Sehingga diperlukan sinkronisasi yang lebih kuat lagi,” tegasnya.

Kemudian, Ronny menyampaikan terdapat tiga hal yang Dianjurkan diperhatikan untuk memastikan pemilihan ketua OJK baru bisa bebas dari unsur kepentingan khusus. Pertama, proses seleksi yang transparan dengan parameter kompetensi jelas, bukan sekadar formalitas fit and proper.

Kedua, rekam jejak independensi, terutama relasinya dengan konglomerasi keuangan dan kekuasaan.

Ketiga, komitmen pascaterpilih, Dikenal sebagai ketua OJK Dianjurkan berani ‘say no’, bahkan pada pihak yang secara politik kuat. Soalnya, independensi OJK tidak lahir dari undang-undang saja, tapi dari tulang punggung pimpinannya,” kata Ronny.

[Gambas:Video CNN]



Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version